Pertemuan Rutin KSM dalam Rangka Optimalisasi Pinjaman Bergulir

Para anggota KSM melakukan Pertemuan Rutin.

Dari sampah Menjadi berkah

Kelurahan Tanjung merupakan salah satu kelurahan yang menjadi lokasi program KOTAKU

PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK MENJADI PUPUK KOMPOS

Pelatihan Pengolahan sampah Organik Menjadi Pupuk Kompos

Memulai dari Sedikit menjadi Besar

Memulai dari sedikit menjadi besar bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan bagi usaha industri rumah tangga tenun ikat KSM Bia Berek

Pembangunan Rabat Beton Oleh KSM Kampung Baru Kabupaten Sikka

Para masyarakat Bergotong Royong Membangun Jalan Setapak 76 m yang dipimpi oleh Ketua RT 07/RW 09

The Power Of emak-emak

anggota KSM adalah perempuan yang dipercaya mengambil peran sebagai sekertaris dan bendahara

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

1 Maret 2021

PENGUMUMAN REKRUTMEN PERSONIL KOTAKU NTT 2021


 

SILAHKAN mendownload File di bawah sebagai syarat dalam melakukan pendaftaran

1.PENGUMUMAN REKRUTMEN PERSONIL KOTAKU NTT 2021 DAN FORMAT PENDAFTARAN

21 Februari 2020

Gandeng Kotaku, Dispar Kupang Gelar Sosialisasi Pengembangan Wisata

Dalam rangka mempersiapkan masyarakat agar memiliki kemampuan mengelola potensi wilayahnya, Dinas Pariwisata Kota Kupang menggelar sosialisasi secara berkala di Kelurahan Oesapa dan Oesapa Barat. Pemilihan dua wilayah ini karena dinilai memiliki potensi pengembangan wisata berbasis ekowisata.Sosialisasi kedua yang di gelar di aula kelurahan Oesapa Barat ini dibuka perwakilan Dinas Pariwisata Kota Kupang Jefry Adoe, belum lama ini. Kegiatan ini dihadiri BKM, LPM, RW, RT dan masyarakat yang antusias dalam dialog terkait pengembangan kawasan wisata di Oesapa.
Menurut Kabid Destinasi ini, sosialisasi dimaksudkan untuk mempersiapkan masyarakat agar lebih siap dalam pengembangan kawasan pariwisata di Oesapa kedepan. Dia juga mengatakan pengembangan kawasan wisata pihaknya menggandeng program Kotaku yang merupakan salah satu program yang mendukung penanganan kumuh di Kota Kupang yang dalam pelaksanaanya perlu ada kolaborasi. “Masyarakat adalah kunci utama sehingga harus ada kerjasama dalam mendukung program, katanya “. Kabid Fispro Badan Perencanaan daerah Kota Kupang, Yan Simu yang hadir sebagai narasumber mengapresiasi salah satu langkah kolaborasi bersama program Kotaku. Hal ini karena sejalan dengan salah satu misi Wali Kota Kupang dalam mempersiapkan Kota Kupang menuju Metropolitan yang berwawasan lingkungan atau Kupang Hijau. Dia juga berkomitmen untuk sejalan dengan target Program Kotaku dalam mencapai 100-0-100 yaitu 100 persen akses air bersih, 0 persen pemukiman kumuh dan pencapaian akses sanitasi layak 100 persen. Hal ini agar Kota Kupang menjadi kayak huni dan masyarakatnyapun lebih sejahtera.
Tenaga Ahli Tata Kota Program Kotaku, Melky Dami dalam diskusinya mengapresiasi peran pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pariwisata sebagai nahkoda dalam mempersiapkan masyarakat dalam pengembangan kawasan wisata di Oesapa Barat. Menurutnya, Program Kotaku memiliki peran penting dalam desain perencanaan kawasan wisata ini, dimana harus dimulai dengan penanganan kumuh terlebih dahulu agar masyarakat lebih siap menyambut Oesapa Barat sebagai kawaan wisata di Kota Kupang.Hal ini juga dimaksudkan karena pengembangan kawasan wisata akan menjadi stimulus positif pertumbuhan ekonomi masyarakat, dengan begitu diharapkan akan ada peningkatan percepatan kesejahteraan masyarakat pesisir pantai Oesapa Barat, tutupnya.




 Penulis
Kristina J Tehang
Subproff  Komunikasi OSP 5 NTT

28 November 2019

Perjuangan Panjang Warga Terisolir di Alak

 Kota Kupang merupakan jantung Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur yang juga memiliki keunikan pariwisatanya. Kecamatan Alak menjadi salah satu jualan pariwisata yang terkenal dengan Gua Kristalnya serta gua monyet yang memberi keunikan tersendiri bagi para pecinta jalan-jalan.
Perjalanan menuju lokasi ini pun akan dihiasi dengan pemandangan garis pantai yang indah dari ketinggian dan tampak beberapa dermaga pelabuhan ikan yang bisa menjadi cerita tersendiri. Tidak jauh dari pelabuhan ikan terbesar di Kota Kupang ini, terdapat pemukiman padat penduduk yang berada di atas tebing dengan kontur tanah rawan longsor yang tepat dibawahnya terdapat jurang besar yang menjadi jalur air menuju ke laut.
Pemukiman padat yang berlokasi di RT 08 RW 03 Kelurahan Alak ini masuk dalam SK Kumuh oleh Pemerintah Kota Kupang sejak tahun 2014, pasalnya masuk dalam 7 indikator kumuh dimana salah satunya adalah tidak adanya akses jalan yang layak di pemukiman tersebut  hingga menyulitkan warga beraktivitas ke luar kampung. Selain itu, tidak ada tempat pembuangan sampah yang layak hingga jurang yang seharusnya bisa menjadi jalur pembuangan limbah cair justru menjadi tempat pembuangan sampah warga.
Kondisi ini berlangsung cukup lama hingga Kelurahan Alak di wilayah RT 04 dan  RT 08 yang juga masuk dalam SK Kumuh Pemerintah Kota Kupang mendapat bantuan pembangunan jalan atas bantuan Pemerintah Kota Kupang, CSR Bank BRI dan PT Pelindo yang berkolaborasi dengan Program Kota Tanpa Kumuh ( KOTAKU ). Proses inipun tidaklah singkat lantaran dimulai dari Badan Keswadayaan masyarakat ( BKM ) Kelurahan Alak “ Bersatu Untuk Maju “ bersama masyarakat melakukan pendataan indikator kumuh pada setiap RT, yang kemudian hasil temuan itu dimasukan dalam pembuatan dokumen Rencana Penataan Lingkungan Pemukiman ( RPLP ) untuk ditindaklanjuti dalam fokus pembangunan kedepan. Selanjutnya dimulai dengan sosialisasi berkala dan pendataan lahan warga yang akan dibebaskan dalam pembangunan jalan.
Ketua RW 03 Kelurahan Alak Felius Tennis berkisah proses sosialisasi awal guna pendekatan kepada warga cukuplah sulit lantaran beberapa warga keberatan membebaskan lahannya untuk pembangunan jalan. Namun dengan pendekatan kekeluargaan dengan mengutamakan kepentingan bersama pembangunan jalan pun terlaksana pada tahun 2018 lalu dengan panjang jalan 2000 meter. Tidak hanya itu edukasi perilaku hidup sehat yang bebas dari sampah pun terus berjalan hingga saat ini.
Felius pun tak menyangka walau proses pembangunan jalan ini berlangsung cukup panjang tapi akhirnya warga pun dengan kesadaran pribadi justru bersemangat dan antusias terlibat dalam pembangunan jalan ini.“ Sekarang kami semua dapat merasakan banyak manfaat dari pembangunan jalan ini, tidak hanya secara sosial tapi juga ekonomi warga“, ceritanya antusias.
Felius pun tak pernah menyangka pemukiman padat di ketinggian dengan lorong sempit seperti terisolir dan sangat dekat dengan jurang yang curam ini dapat dibangun jalan yang layak. Jika sebelumnya warga harus memutar jalur yang lebih panjang untuk keluar dari kompleks pemukiman, pemenuhan air bersih juga sulit dengan akses perpipaan ataupun pengantaran air bersih dengan tangki karena belum tersedianya akses jalan. Kini kesulitan itu tidak dirasakan lagi, warga sangat terbantu dengan akses jalan baru ini, kekhawatiran orangtua ketika anak-anak pulang sekolah yang sebelumnya melalui jalur panjang yang cukup berbahaya kini jadi lebih aman, hasil jualan barang bekas warga juga dimudahkan dalam proses antar ataupun ambil dari konsumen, penyortiran air tangki juga sudah bisa masuk ke rumah warga.
Felius juga berharap agar warga tetap menjaga dan berperan aktif memelihara jalan yang sudah ada, serta tidak membuang sampah ke jalan ataupun jurang yang nantinya juga akan mempersulit warga sendiri.


Penulis
 
Kristina J Tehang
Sub Proff Communication OSP 05 NTT

25 November 2019

Budayakan LISA Di Lingkungan Sekitar

   Tantangan pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman layak huni tidak hanya dihadapi di Indonesia, namun juga di negara lain di dunia. Oleh karena itu Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan setiap Senin pertama di Bulan Oktober sebagai Hari Habitat Dunia (HHD), sedangkan Hari Kota Dunia ( HKD ) diperingati setiap tanggal 31 Oktober. Tujuannya untuk mendorong komunitas internasional mulai mengangkat isu-isu perkotaan. Selain itu, HKD juga bertujuan untuk mendorong kerjasama antarnegara untuk mendukung pembangunan perkotaan berkelanjutan. 
Team Leader Kotaku OSP 5 NTT, Stely L.K Paulus di sela kegiatan mengajak masyarakat untuk Budayakan " LISA " yaitu Lihat Sampah, Angkat dan buang ke tempat sampah, hal ini dimaksudkan agar sampah tidak berserakan yang membuat lingkungan terlihat kumuh. " Sebaik apapun infrastruktur yang dibangun jika sampah berserakan maka secara visual tetap terlihat kumuh, tegasnya. Harapannya masyarakat mau peduli terhadap sampah yang berserakan di hunian dan lingkungan sekitarnya agar tercipta  hunian yang layak huni.
Sementara itu Perwakilan Balai Prasarana Pemukiman Wilayah NTT, Luan Tahun mengatakan           
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Yerri Padji Kana yang turut hadir dalam kegiatan ini juga menyampaikan terimakasih atas dukungan Kotaku dalam mendukung Pemerintah Kota Kupang perangi kumuh yang menjadi persoalan sosial saat ini, dimana isu ini ada seiring dengan pertumbuhan penduduk di Kota. Penanganan  kumuh di Kota menurutnya ada tiga elemen penting yaitu Masyarakat, Pemerintah dan Pihak Swasta, sehingga perlu ada kolaborasi dan sinergitas dalam program. Namun yang terpenting adalah komitmen perangi
sampah agar kota bebas kumuh dan layak huni, tegasnya.Hari Habitat Dunia tahun 2019 di Indonesia mengangkat thema “ Generasi Masa Depan, Generasi Peduli Sampah “ yang merupakan ajakan bagi generasi muda sebagai penerus bangsa  agar peka terhadap lingkungan sekitar. Aksi peduli sampah dari masing-masing individu ini sangatlah penting yang nantinya akan mendorong kesadaran ramah lingkungan sebagai bagian dari budaya Indonesia. Kesadaran ini pun diharapkan dapat dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Dimana isu sampah menjadi salah satu masalah perkotaan yang merupakan isu global yang tidak saja terjadi di Indonesia tapi seluruh dunia.
Selain aksi bersih-bersih, Balai Prasarana Pemukiman Wilayah NTT juga menurunkan tiga tangki air bersih bagi warga di RT 24, 25 dan 26, aksi ini juga ditutup dengan Deklarasi bersama sebagai komitmen masyarakat setempat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan budayakan LISA.
Memperingati HHD dan HKD tahun ini, Balai Pemukiman Wilayah NTT bersama Satker pelaksana I dan 2, serta Program Kota Tanpa Kumuh ( Kotaku ) bersama lurah, BKM, karang taruna dan masyarakat melaksanakan kegiatan bersih-bersih di RT 25 Kelurahan Naikoten 1, Kecamatan Kota raja yang masuk dalam RT Delinasi SK Kumuh Wali Kota Kupang.
masalah kebersihan adalah masalah perilaku dan kebiasaan. Kebersihan harus datang dari diri sendiri, jangan selalu berharap semua akan diselesaikan oleh pemerintah tapi mari dimulai dari diri sendiri misalnya membuang sampah pada tempatnya dan semua dimulai dari keluarga, katanya.






Kristina J Tehang
Sub Proff Communication OSP 5 NTT

Perangi Kota Kumuh Dengan Sistim 100-0-100


      Populasi perkotaan di Indonesia yang meningkat tajam setiap tahunnya mendorong kolaborasi banyak pihak dalam pengentasan masalah perkumuhan di Kota Kupang. Hal inilah yang menjadi fokus dalam Lokakarya Program Kota Tanpa Kumuh ( KOTAKU ) Jumat 25 Oktober 2019.
Kepala Bappeda Jefry Pelt menyatakan pemerintah siap berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mewujudkan Kota Kupang sebagai Metropolitan berbasis Lingkungan dengan menjadikan “ Kupang Hijau “ dan bebas kumuh. Tidak hanya itu komitmen juga akan  diwujudkan dalam bentuk penganggaran melalui APBD dan peran aktif seluruh perangkat daerah hingga tercapai target 100 – 0 – 100 yaitu 100 persen masyarakat mempunyai akses terhadap air bersih, 0 persen tanpa pemukiman kumuh dan 100 persen masyarakat mempunyai sanitasi yang layak.Pencapaian target ini agar Kota Kupang menjadi daerah yang nyaman dan layak huni, tegasnya. Kedepan kita juga akan hijaukan Kupang dengan mendorong masyarakat menanam pohon supaya Kupang menjadi hijau dan sejuk, “jangan ko masyarakat kasih salah pengertian dengan cat hijau lagi “, katanya bercanda.
Koordinator Kota Kupang Program Kotaku, Johana Boro mengatakan pentingnya kolaborasi dalam mewujudkan Kota tanpa kumuh dan Pemerintah daerah menjadi nahkoda dalam program ini. Dia pun mengakui permasalahan krusial Kota Kupang adalah air bersih, sanitasi dan limbah, dimana pihaknya berharap sinergitas program dengan berbagai pihak baik LSM, CSR dan BUMN dalam mewujudkan Kota Kupang bebas kumuh.
    Adapun beberapa indikator sebuah kota dinyatakan kumuh antara lain, tersedianya air bersih, pengelolaan persampahan, pengelolaan limbah, ruang terbuka hijau, pengamanan kebakaran, drainase lingkungan, jalan lingkungan dan tata bangunan.
Lurah Oesapa Barat Christian Chandra mengakui dua wilayah pada RT 2 dan 7 sempat mendapat predikat wilayah paling kumuh di Kota Kupang namun berkat dukungan Program Kotaku bersama pemerintah, serta masyarakat wilayahnya menjadi bebas kumuh. Bahkan dalam program yang berkelanjutan, pihaknya akan menata kawasan lain yang masih kumuh dan penataan kawasan wisata dimana salah satunya adalah pembangunan cotage di daerah mangrove, revitalisasi tambak garam menjadi tambak bandeng dan memperluas ruang terbuka hijau.
Selain Lokakarya Kotaku Kota Kupang juga mengadakan pameran sebagai bentuk kampanye mengajak masyarakat Kota Kupang selalu menjaga kebersihan yang dimulai dari diri sendiri dan lingkungan agar tercipta hunian, lingkungan dan kota yang layak huni.





Kristina J Tehang
Sub Prof Communication OSP 5 NTT






















6 November 2019

" L I S A " Lihat Sampah Ambil dan Pindahkan ke Tempat Sampah

Peringatan Hari Habitat Dunia dan Hari Kota Dunia diselenggarakan serentak di seluruh Indonesia mencapai puncaknya pada 31 Oktober 2019 hari ini. Untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Peringatan Hari Habitat Dunia dan Hari Kota Dunia dilaksanakan secara kolaborasi antara Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Kota Kupang, dan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) OSP 5 Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Kegiatan terpusat di Kelurahan Naikoten 1, Kota Kupang,Yang Merupakan salah satu lokasi deleniasi kumuh sesuai SK Kumuh Walikota Kupang, yang berada di pinggir aliran sungai yang sebelumnya menjadi lokasi penumpukan sampah dan limbah dari masyarakat setempat dan pasar Inpres Naikoten 1, yang mana sudah pernah dilakukan penanganan pada tahun 2017 secara berkolaborasi dari PUPR Kota Kupang (Pembangunan Talud/Normalisasi Sungai dan Oleh KOTAKU (Pembangunan RTH/RTP,Jalan, Drainase dan Jembatan)  
 yang dilakukan adalah mengedukasi masyarakat agar peduli terhadap kelestarian lingkungan huniannya melalui aksi nyata membersihkan sampah dan limbah rumah tangga serta pasar, bersama seluruh Pejabat dan Staf  Balai Prasarana permukiman Wilayah Nusa Tenggara Timur, Lurah Naikoten 1, Tim OSP 5 NTT, KORKOT 1 dan Fasilitator KOTAKU, Lurahn, BKM,LPM, Babinsa, RT,RW warga sekitar baik Orang Tua, Pria/wanita, Pemuda/i dan juga Pelayanan air bersih kepada warga melalui pemasangan Tandon,suplai air tangki dan aksi cuci tangan sehat oleh Balai NTT.
selain itu warga pun melakukan aksi Pengecatan kembali Lopo, Pagar Pembatas, Jembatan, jalan agar terlihat lebih bersih, dan asri karena tempat itu menjadi Ruang Terbuka Publik bagi warga sekitar.    
Alhasil…. Lingkungan kembali menjadi bersih, indah dan asri… tempat bermain anak-anak dan tempat santai untuk saling berinteraksi antara warga setempat menjadi lebih bersih dan sehat kembali.....
                                                           Bersih itu INDAH......
                                                           Bersih itu SEHAT......
Agar hasil dari aksi bersih-bersih bisa terus terjaga dan membudaya dimasyarakat, maka dilanjutkan dengan Deklarasi Bersama Balai Prasarana Permukiman Wilayah Nusa Tenggara Timur Lurah, TL dan Korkot KOTAKU, Lurah, BKM, LPM, Babinsa, RT, RW, Perwakilan warga dan Pemuda, agar selalu menjaga kelestarian lingkungan huniannya dengan membudayakan L I S A  “LIhat Sampah Ambil dan Pindahkan ke Tempat Sampah”
 
Aksi tersebut dipimpin oleh Team Leader KOTAKU NTT dengan mengajak seluruh warga mendeklerasikan bersama bahwa GENERASI MASA DEPAN ADALAH GENERASI PEDULI SAMPAH Dengan Selalu membudayakan"LISA"agar dapat terinternalisasi selamanya, jika hal ini bisa membudaya dan terinternalisasi serta bisa menjadi kebiasaan seluruh warga masyarakat akan sadar dengan sendirinya untuk "LISA" maka diyakini kota kita akan menjadi KOTA BEBAS SAMPAH, BEBAS KUMUH, dan LAYAK HUNI.....


                                                                    Salam KOTAKU............. 





 Penulis


11 Juni 2018

MENGGAPAI MIMPI WUJUDKAN KOTA ENDE BEBAS SAMPAH

       Adalah Aliansi Ata Ende Peduli Sampah yang merupakan kumpulan pegiat lingkungan dan sosial di kabupaten Ende yang terdiri dari Komunitas ACIL (Anak Cinta Lingkungan), Komunitas Ende Berbagi, KOPIPAS (Komunitas Pemuda Islam dan Pegiat Aksi Sosial), Komunitas Pencinta Alam BUMI ENDE, dan Komunitas Pencinta Alam Laskar Ambruk. Kumpulan komunitas tersebut kemudian bersepakat berhimpun menggagas sekaligus membetuk Aliansi ATA ENDE PEDULI SAMPAH tepat pada Hari Bumi tanggal 22 April 2018. Umur Hamdan yang menahkodai Komunitas ACIL kabuapten Ende yang sejak tahun 2017 telah menjadi mitra program KOTAKU, menjadi inisiator dan pelopor pembentukan Aliansi Ata Ende Peduli Sampah sekaligus dipercayakan menjadi Ketua Aliansi.
Target Aliansi Ata Ende Peduli Sampah dalam mewujudkan Kota Ende Bebas Sampah adalah :
Pertama : Melakukan penanganan sampah dengan pengelolaan dan pemilahan sampah dengan prinsip 3 R;
Kedua : Mengurangi (Diet) penggunaan kantong plastik dalam kehidupan sehari-hari;
Ketiga : Menjadikan sampah sebagai peluang usaha ekonomi kreatif.
Aksi Jalan Sehat dan Pungut Sampah

Pasca pembentukan Aliansi Ata Ende Peduli Sampah, disepakatilah sebuah kegiatan yang merupakan gerakan peduli sampah yang selanjutnya dikemas dalam kegiatan yang kemudian dinamai sebagai Aksi Jalan Sehat dan Pungut Sampah khususnya sampah plastik, ekseskusi waktu pelaksanaanyapun disepakti yaitu dilaksanakan pada hari Minggu, 13 April 2018. Kegiatan aksi jalan sehat dan pungut sampah selain bentuk komitmen Aliansi Ata Ende Peduli Sampah pada permasalahan sampah di kota Ende, tetapi juga menjadi sebuah gerakan ajakan kepada seluruh eleman warga Kota Ende, Pemerintah Daerah Kabupaten Ende dan stake holder lainnya untuk secara bersama-sama mendukung dan peduli terhadap sampah demi terwujudnya kesehatan lingkungan yang ramah dan bersahabat bagi pemukimnya.
Adapun kegiatan aksi jalan sehat dan pungut sampah yang digelar tanggal 13 April 2018 tersebut, diikuti oleh unsur-unsur sebagai berikut :
No Institusi Unsur Keterangan
1 Dinas Lingkungan Hidup Pemda Peserta
2 Dinas Kesehatan Pemda Peserta
3 Polres Ende Forkopimda Peserta
4 Komunitas ACIL Komunitas Penggagas/Peserta
5 Komunitas Ende Berbagi Komunitas Penggagas/Peserta
6 Komunitas Bumi Ende Komunitas Penggagas/Peserta
7 KOPIPAS Komunitas Penggagas/Peserta
8 Komunitas Laskar Ambruk Komunitas Penggagas/Peserta
9 KOTAKU Ende Program KOTAKU Peserta
10 OMK Onekore Pemuda Katolik Peserta
11 Mapala Unflor PT Peserta
12 SMA Katolik Syuradikara Pendidikan Peserta
13 FMPS Ende Selatan Komunitas Peserta

Lokasi kegiatan aksi jalan sehat dan pungut sampah dilaksanakan mulai jam 05:30 Wita, start dari Perlimaan KM 3T (Tugu Pancasila) - Jln Kelimutu - Jln Sudirman-Finish Lapangan Pancasila Ende.


                           Pembukaan Kegiatan                                      Aksi Pungut Sampah



Deklarasi
Kegiatan Aksi jalan sehat dan pungut sampah, diakhiri dengan pembacaan Deklarasi dan penanda tanganan wakil peserta diatas kain putih sebagai ikrar dan komitmen bersama dalam penanganan permasalahan sampah di Kota Ende.


oleh: Marius Aiba (Koordinator Kota 2 P Flores)